Entri Populer

Minggu, 09 Oktober 2011

Memberi Nama Bayi / Anak Secara Islami



Memberi Nama Bayi / Anak Secara Islami

Meski sastrawan Inggris, Shakespeare, berkata “What’s in a name?” Apalah arti sebuah nama? Namun dalam Islam, nama itu penting.
Seorang teman ada yang dinamakan orang tuanya nama yang kurang bagus, namun karena malu begitu SMP namanya dirubah jadi lebih baik. Ada pula yang dinamakan Letoy (lemas). Anak bisa malu atau rendah diri jika namanya buruk dan teman-temannya memanggilnya dengan namanya yang buruk.
Untuk itu Nabi memerintahkan agar para orang tua memberi nama anaknya dengan nama yang baik:
Seorang datang kepada Nabi Saw dan bertanya, ” Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Nabi Saw menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatirnu).” (HR. Aththusi).
Nabi pernah merubah nama yang artinya buruk, Barrah, menjadi Zainab:
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata:
Semula nama Zainab adalah Barrah. Orang mengatakan, ia membersihkan dirinya. Lalu Rasulullah saw. memberinya nama Zainab. (Shahih Muslim No.3990)
Hendaknya memberi nama (tasmiyah) dilakukan pada saat aqiqah, yaitu menyembelih 2 ekor kambing untuk anak lelaki dan seekor kambing untuk anak perempuan:
Setiap anak tergadai dengan (tebusan) akikahnya (seekor atau dua ekor kambing) yang disembelih pada umur tujuh hari dan dicukur rambut kepalanya (sebagian atau seluruhnya) dan diberi nama. (HR. An-Nasaa’i)
Nabi melarang ummatnya untuk memberi nama dengan gelarnya: Abu Qosim:
Dari Anas bin Malik ra., ia berkata:
Seseorang menyapa temannya di Baqi: Hai Abul Qasim! Rasulullah saw. berpaling kepada si penyapa. Orang itu segera berkata: Ya Rasulullah saw, aku tidak bermaksud memanggilmu. Yang kupanggil adalah si Fulan. Rasulullah saw. bersabda: Kalian boleh memberi nama dengan namaku, tapi jangan memberikan julukan dengan julukanku. (Shahih Muslim No.3974)
Sebaliknya, Nabi menganjurkan agar kita memberi nama anak kita dengan nama Nabi, yaitu: Muhammad:
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata:
Abul Qasim, Rasulullah saw. bersabda: Berikanlah nama dengan namaku, tetapi jangan memberikan julukan dengan julukanku. (Shahih Muslim No.3981)
Dari Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:
Seseorang di antara kami mempunyai anak. Ia menamainya dengan nama Muhammad. Orang-orang berkata kepadanya: Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama Rasulullah saw. Orang itu berangkat membawa anaknya yang ia gendong di atas punggungnya untuk menemui Rasulullah saw. Setelah sampai di hadapan Rasulullah saw. ia berkata: Ya Rasulullah! Anakku ini lahir lalu aku memberinya nama Muhammad. Tetapi, orang-orang berkata kepadaku: Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama dengan nama Rasulullah saw. Rasulullah saw. bersabda: Kalian boleh memberikan nama dengan namaku, tetapi jangan memberi julukan dengan julukanku. Karena, akulah Qasim, aku membagi di antara kalian. (Shahih Muslim No.3976)
Haram menamakan anak dengan nama Allah seperti Malikul Amlak dan Malikul Mulk (Raja Segala Raja) karena itu adalah nama Allah. Jangan memberi nama anak dengan nama-nama Allah:
Dari Ibnu Umar ra, Nabi bersabda: Nama yang paling disukai Allah adalah Abdullah (Hamba Allah) dan Abdurrahman (Hamba Yang Maha Pengasih) [HR Muslim]
Dari Abu Hurairah ra.:
Dari Nabi saw., beliau bersabda: Nama yang paling jelek di sisi Allah adalah seorang yang bernama Malikul Muluk. Ibnu Abu Syaibah menambahkan dalam riwayatnya: Tidak ada malik (raja) kecuali Allah Taala.. (Shahih Muslim No.3993)
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna” [Al A’raaf:180]
“Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik)” [Thaahaa:8]
Sebaliknya Nabi memberi nama-nama Nabi seperti Ibrahim kepada seorang anak.
Dari Abu Musa ra., ia berkata:
Anakku lahir, lalu aku membawanya kepada Nabi saw., beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya (mengolesi mulutnya) dengan kurma. (Shahih Muslim No.3997)
Sebaiknya nama adalah Abdul (Hamba) dengan Asma’ul Husna (99 Nama Allah yang baik) seperti Abdullah (Hamba Allah), Abdurrahman (Hamba Maha Pengasih), Abdul Hakim, Abdul Hadi, dan sebagainya:
Dari Aisyah ra., ia berkata:
Asma binti Abu Bakar ra. keluar pada waktu hijrah saat ia sedang mengandung Abdullah bin Zubair. Ketika sampai di Quba’, ia melahirkan Abdullah di Quba’. Setelah melahirkan, ia keluar menemui Rasulullah saw. agar beliau mentahnik si bayi. Rasulullah saw. mengambil si bayi darinya dan beliau meletakkannya di pangkuan beliau. Kemudian beliau meminta kurma. Aisyah ra. berkata: Kami harus mencari sebentar sebelum mendapatkannya. Beliau mengunyah kurma itu lalu memberikannya ke mulut bayi sehingga yang pertama-tama masuk ke perutnya adalah kunyahan Rasulullah saw. Selanjutnya Asma berkata: Kemudian Rasulullah saw. mengusap bayi, mendoakan dan memberinya nama Abdullah. Tatkala anak itu berumur tujuh atau delapan tahun, ia datang untuk berbaiat kepada Rasulullah saw. Ayahnya, Zubair yang memerintahkan demikian. Rasulullah saw. tersenyum saat melihat anak itu menghadap beliau. Kemudian ia membaiat beliau. (Shahih Muslim No.3998)
Jika memakai nama seperti itu, hendaknya jika kita menyingkat nama anak, panggilah dengan Abdul (Hamba). Bukan memanggilnya dengan nama Allah seperti Hadi, ‘Alim, dan sebagainya. Jika tidak, panggil namanya dengan lengkap seperti Abdul Hadi.
Dari Sahal bin Saad ra., ia berkata:
Al-Mundzir bin Abu Usaid, ketika baru dilahirkan, dibawa menghadap Rasulullah saw. Beliau meletakkan di pangkuannya sedangkan Abu Usaid duduk. Lalu perhatian Nabi saw. tercurah pada sesuatu di depan beliau. Maka Abu Usaid menyuruh seseorang mengangkat anaknya dari atas paha Rasulullah saw. dan memindahkannya. Ketika Rasulullah saw. tersadar, beliau bertanya: Mana anak itu? Abu Usaid menjawab: Kami memindahkannya, ya Rasulullah saw. Rasulullah saw. bertanya: Siapa namanya? Abu Usaid menjawab: Fulan, ya Rasulullah saw. Rasulullah saw. bersabda: Tidak, tetapi namanya adalah Mundzir. Jadi, pada hari itu, Rasulullah saw. memberinya nama Mundzir. (Shahih Muslim No.4002)
Meski ada yang berkata bahwa memberi nama bisa dalam bahasa apa saja bukan hanya Arab, namun saya pribadi beranggapan dalam bahasa Arab lebih baik karena bahasa Arab merupakan bahasa umum/persatuan yang dipakai ummat Islam. Artinya bisa dipahami secara sama/standar oleh siapa saja. Misalnya kalau Muhammad kita tahu artinya terpuji, atau Abdullah adalah Hamba Allah.
Tapi kalau bahasa lain, meski dalam bahasa itu artinya bagus, tapi menurut bahasa lainnya bisa saja buruk. Sebagai contoh kata “Tai” dari Cina artinya besar. Dalam bahasa Indonesia “Tai” artinya kotoran dan bisa ditertawakan orang.
Berikut adalah contoh nama-nama yang Islami:
Nama Nabi:
Muhammad atau Ahmad
Adam, Idris, Nuh, Hud, Saleh, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Luth, Ya’qub, Yusuf, Syu’aib, Musa, Harun, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yunus, Zakaria, Yahya, Isa, Ilyas, Ilyasa’, Dzulkifli, Khaidir
Nama yang diberikan Nabi:
Zainab (perempuan), Ibrahim, Mundzir
Nama anak Nabi:
Ibrahim, Qosim
Fatimah (Az Zahro), Ummu Kaltsum
Nama-nama orang baik dalam Al Qur’an: Luqman (bapak yang bijaksana), Dzulkarnain (raja yang perkasa), Imran
Cucu Nabi:
Hasan, Husein
Istri Nabi:
A’isyah, Ummu Salamah, Hafsah, Khadijah, Zainab, Shofiyah, Saudah, Maimunah, Juwairiyah
Orang tua Nabi:
Abdullah, Aminah, Halimah (ibu susu), Maryam (ibu Nabi Isa)
Paman Nabi:
Hamzah, Abbas
Sahabat Nabi:
Abu Bakar, Umar, Usman, Ali (Khulafaaur Rasyidiin)
Salman Al Farisi, Bilal, Khalid bin Walid, Mu’adz bin Jabbal, Anas bin Malik, Abu Dzar Al Ghifari, Abu Ubaidah, Al Miqdad in Amr bin Tsa’labah, Bara’ bin Malik, Fudhail bin Iyadl At Tamimy, Khobbaab bin Al-Art, Zaid bin Haritsah, Mu’adz Bin Jabal, Mush’ab Bin Umair, Utbah bin Ghazwan, Abdullah Bin Mughaffal, Abdullah Bin Malik, Ubai bin Ka’ab, Hudzaifah
Asma’ul Husna (99 Nama terbaik Allah)
Asma’ul Husna ini harus dipadukan dengan Abdul (Hamba) sehingga artinya adalah Hamba Allah, misalnya Abdullah, Abdul Hakim, Abdul Hadi, Abdurrahman, dsb.
Asma’ul Husna:
1. Allah
2. Ar-Rahman – Maha Pemurah
3. Ar-Rahim – Maha Penyayang
4. Al-Malik – Maha Merajai/Pemerintah
5. Al-Quddus – Maha Suci
6. As-Salam – Maha Penyelamat
7. Al-Mu’min – Maha Pengaman
8. Al-Muhaymin – Maha Pelindung/Penjaga
9. Al-’Aziz – Maha Mulia/Perkasa
10. Al-Jabbar – Maha Pemaksa
11. Al-Mutakabbir – Maha Besar
12. Al-Khaliq – Maha Pencipta
13. Al-Bari’ – Maha Perancang
14. Al-Musawwir – Maha Menjadikan Rupa Bentuk
15. Al-Ghaffar – Maha Pengampun
16. Al-Qahhar – Maha Menundukkan
17. Al-Wahhab – Maha Pemberi
18. Ar-Razzaq – Maha Pemberi Rezeki
19. Al-Fattah – Maha Pembuka
20. Al-’Alim – Maha Mengetahui
21. Al-Qabid – Maha Penyempit Hidup
22. Al-Basit – Maha Pelapang Hidup
23. Al-Khafid – Maha Penghina
24. Ar-Rafi’ – Maha Tinggi
25. Al-Mu’iz – Maha Pemberi Kemuliaan/Kemenangan
26. Al-Muthil – Maha Merendahkan
27. As-Sami’ – Maha Mendengar
28. Al-Basir – Maha Melihat
29. Al-Hakam – Ma! ha Menghukum
30. Al-’Adl – Maha Adil
31. Al-Latif – Maha Halus
32. Al-Khabir – Maha Waspada
33. Al-Halim – Maha Penyantun
34. Al-’Azim – Maha Agong
35. Al-Ghafur – Maha Pengampun
36. Ash-Shakur – Maha Pengampun
37. Al-’Aliyy – Maha Tinggi Martabat-Nya
38. Al-Kabir – Maha Besar
39. Al-Hafiz – Maha Pelindung
40. Al-Muqit – Maha Pemberi Keperluan
41. Al-Hasib – Maha Mencukupi
42. Aj-Jalil – Maha Luhur
43. Al-Karim – Maha Mulia
44. Ar-Raqib – Maha Pengawas
45. Al-Mujib – Maha Mengabulkan
46. Al-Wasi’ – Maha Luas Pemberian-Nya
47. Al-Hakim – Maha Bijaksana
48. Al-Wadud – Maha Pencinta
49. Al-Majid – Maha Mulia
50. Al-Ba’ith – Maha Membangkitkan
51. Ash-Shahid – Maha Menyaksikan
52. Al-Haqq – Maha Benar
53. Al-Wakil – Maha Berserah
54. Al-Qawiyy – Maha Memiliki Kekuatan
55. Al-Matin – Maha Sempurna Kekuatan-Nya
56. Al-Waliyy – Maha Melinuingi
57. Al-Hamid – Maha Terpuji
58. Al-Muhsi – Maha Menghitung
59. Al-Mubdi’ – Maha Memulai/Pemula
60. Al-Mu’id – Maha Mengembalikan
61. Al-Muhyi – Maha Menghidupkan
62. Al-Mumit – Maha Mematikan
63. Al-Hayy – Maha Hidup
64. Al-Qayyum – Maha Berdiri Dengan Sendiri-Nya
65. Al-Wajid – Maha Menemukan
66. Al-Majid – Maha Mulia
67. Al-Wahid – Maha Esa
68. As-Samad – Maha Diminta
69. Al-Qadir – Maha Kuasa
70. Al-Muqtadir – Maha Menentukan
71. Al-Muqaddim – Maha Mendahulukan
72. Al-Mu’akhkhir – Maha Melambat-lambatkan
73. Al-’Awwal – Maha Pemulaan
74. Al-’Akhir – Maha Penghabisan
75. Az-Zahir – Maha Menyatakan
76. Al-Batin – Maha Tersembunyi
77. Al-Wali – Maha Menguasai Urusan
78. Al-Muta’ali – Maha Suci/Tinggi
79. Al-Barr – Maha Bagus (Sumber Segala Kelebihan)
80. At-Tawwab – Maha Penerima Taubat
81. Al-Muntaqim – Maha Penyiksa
82. Al-’Afuww – Maha Pemaaf
83. Ar-Ra’uf – Maha Mengasihi
84. Malik Al-Mulk – Maha Pemilik Kekuasaan
85. Zhul-Jalali wal-Ikram – Maha Pemilik Keagungan dan Kemuliaan
86. Al-Muqsit – Maha Mengadili
87. Aj-Jami’ – Maha Mengumpulkan
88. Al-Ghaniyy – Maha Kaya Raya
89. Al-Mughni – Maha Penberi Kekayaan
90. Al-Mani’ – Maha Membela/Menolak
91. Ad-Darr – Maha Pembuat Bahaya
92. An-Nafi’ – Maha Pemberi Manfaat
93. An-Nur – Maha Pemberi Cahaya
94. Al-Hadi – Maha Pemberi Petunjuk
95. Al-Badi’ – Maha Indah/Tiada Bandingan
96. Al-Baqi – Maha Kekal
97. Al-Warith – Maha Membahagi/Mewarisi
98. Ar-Rashid – Maha Pandai/Bijaksana
99. As-Sabur – Maha Penyabar


From: Media Islam



  • Akram Fadhal Hadinata [putra pelindung yang dermawan dan penuh kebaikan]
  • Zafran Najmi Saddam [putra penguasa yang perkasa dan pemenang seperti bintang yang indah]
  • Nayaka Qadama Sakhi [pemimpin yang pemberani dan murah hatinya]
  • Farras Akhal Kamil [putra sempurna yang tajam pikirannya dan memiliki mata berwarna hitam nan indah]
  • Zufar Junaid Arya [putra bangsawan seperti tentara yang pemberani]
  • Istaz Ammar Ikhbar [putra pendakwah agama yang menyampaikan berita dan kuat imannya] 

  • Davis Edric Firas [putra penguasa yang kaya, gigih dan tersayang]
  • Akira Daiva Aquilino [putra cerdik seperti dewa elang yang indah]
  • Ariq Bara Al-Farabi [pemimpin yang suci dan baik budi]
  • Junaidi Tsabitul Azmi [tentara yang memiliki keteguhan hati]
  • Muhammad Junaidi Jahfal [tentara yang memiliki sifat terpuji, mulia dan agung]
  • Muhammad Hilmi Syafaq [putra penyabar yang memiliki sifat terpuji dan memancarkan cahaya fajar]
  • Abiyyu Naufal Zhaiyan [putra yang mulia jiwanya dan dermawan seperti madu yang manis]


  • Fathin Maghfirah Alifa [putri yang menawan hati, pemaaf dan lembut]
  • Selena Aufadina Azrha [putri yang setia dan taat laksana bulan yang indah]
  • Adelia Zyta Nawfa [putri yang cantik, setia dan mulia]
  • Azita Filzah Ardelia [putri belahan jiwa yang tekun seperti putri iran yang cantik]
  • Verda Miranda Qirani [putri muda yang segar dan memancarkan cahaya kecantikan]
  • Azusa Kamilah Firza [putri yang memancarkan cahaya kesempurnaan laksana bunga lily yang indah]
  • Nada Safaniya Arifany [putri yang baik hati dan berilmu seperti embun dipagi hari yang indah]

Sabtu, 08 Oktober 2011

Asma’ Binti Abu Bakar, Teladan Wanita Muslimah

Asma’ Binti Abu Bakar, Teladan Wanita Muslimah


Sungguh, riwayat hidup shahabat wanita yang satu ini penuh dengan episode kepahlawanan dan potret yang memancarkan iman.
Ketika beliau memeluk Islam, baru ada 17 orang yang menjadi pembela agama ini.
Dan tatkala menemani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk pergi berhijrah, ayahnya yang tak lain adalah Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu, membawa seluruh hartanya untuk dibelanjakan demi keperluan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena sejak awal slogan Abu Bakar ketika ditanya apa yang kau sisakan untuk keluargamu adalah jawabannya, “Ku sisakan untuk mereka Allah dan RasulNya.”
Mengetahui hal itu, kakek Asma’ yang pada saat itu belum masuk Islam dan dia dalam kondisi buta, datang menemui Asma’ dan berkata, “Menurutku bapakmu pasti menyusahkan kalian dengan membawa seluruh hartanya sebagaimana dia menyusahkan kalian dengan perbuatan yang dia lakukan.”
Mendengar kalimat ini, Asma’ merasa tidak rela jika ada seorang muslim yang dianggap menyia-nyiakan anggota keluarganya, padahal orang tersebut menjaga keluarganya dengan jaminan penjagaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu Asma’ mengambil banyak batu yang ditutupi dengan sebuah kain supaya kakeknya menyangka kalau itu adalah potongan emas dan perak. Setelah memegang batu-batu tersebut sang kakek mengatakan, “Tidaklah masalah jika dia telah meninggalkan untuk kalian sebanyak ini, sungguh dia telah bersikap dengan benar.”
Demikianlah yang sering terjadi dalam kehidupan. Dimana kelalaian terhadap Allah membuat banyak orang mengira, bahwa menjaga keluarga itu hanya dengan harta, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik penjaga. Dalam satu hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Wahai Aisyah, seandainya aku mau, tentu gunung-gunung emas akan berjalan mengiringiku kemanapun aku pergi.”
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berangkat berhijrah ke Madinah, kaum Quraisy mengintai dan mengikuti semua gerak-gerik beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Sejarah mencatat langkah-langkah Rasulullah dan shahabatnya, Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu, tatkala meninggalkan Makkah untuk menyongsong masa depan dakwah Islam yang cemerlang, yang tampak jelas di pelupuk mata keduanya.
Perjalanan hijrah tersebut penuh dengan bantuan dan pertolongan Allah. Dalam peristiwa yang sangat menegangkan itu, tidak ada seorang pun di kota Makkah yang mengetahui keberadaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kecuali seorang laki-laki yaitu Ali Radhiallahu ‘Anhu, dan seorang perempuan yaitu Asma’ binti Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu.
Diceritakan bahwa orang-orang Quraisy berhasil mengetahui hal itu. Karenanya, Abu Jahal bergegas mendatangi rumah Asma’ dan menggedor pintunya. Meskipun dalam kondisi hamil, tanpa rasa takut sedikitpun, Asma membuka pintu di hadapan musuh Allah yang sedang dikuasai nafsu amarahnya.
Dengan kasar, Abu Jahal memaksa Asma’ untuk membocorkan tempat persembunyian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tapi, dengan keimanan yang membaja, Asma’ menolak permintaan Abu Jahal itu. Sehingga kemarahan Abu Jahal tak terkendalikan lagi. Dia lalu memukul dan menampar wanita mulia tersebut.
Asma’, sang pemberani, tak bergeming sedikitpun oleh tamparan orang yang begitu ingkar kepada Allah. Sehingga Abu Jahal terpaksa berlalu tanpa mendapat informasi sedikitpun tentang persembunyian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Wanita mulia ini mendapat tugas mengantar bekal dan makanan untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Untuk menyelesaikan tugas ini, beliau rela berjalan kaki di atas pasir yang panas, atau di tengah kegelapan malam yang kelam. Walau, kadangkala, rasa takut tiba-tiba menyerangnya. Kekuatan iman telah mendorongnya, sebagaimana cahaya kenabian selalu menerangi jalannya.
Terpampang di pelupuk mata wanita ini, munculnya cahaya Islam dan tegaknya sebuah negara yang penuh dengan iman, kebajikan dan cahaya kebenaran. Kekuatan iman telah memangkas habis semua rasa takut yang membayangi wanita ini. Bagaimana tidak, tidakkah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajari para shahabatnya dengan sabdanya, “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman. Pertama, Allah dan RasulNya lebih dia cintai dari segala-galanya. Kedua, memiliki rasa cinta dan benci karena Allah semata. Ketiga, seandainya ada api yang berkobar-kobar kemudian dia dilempar ke dalamnya itu lebih disukai daripada menyekutukan Allah dengan yang lainnya.” (HR. Bukhari, Iman 16; Muslim, Iman 43; Nasai, Iman dan Syariatnya 4987; redaksi milik Nasai)
Suatu ketika, disaat menyiapkan makanan untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar, wanita yang mulia tersebut berfikir tentang cara mengikat bekal makanan yang sudah disiapkan tersebut. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengambil sebuah kain kerudung, lalu merobeknya menjadi dua bagian. Satu bagian, untuk bekal makanan dan yang satu lagi digunakan sebagai ikat pinggang. Peristiwa tersebut membuat beliau mendapat sebuah gelar baru, yaitu dzatu an-nitoqaini, yang bermakna wanita yang memiliki dua ikat pinggang. Demikianlah sebuah gelar kehormatan yang dihadiahkan untuknya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Asma’ adalah wanita yang hebat, cerdas dan hidup berkecukupan. Akan tetapi, semua itu tidak menyebabkannya menyombongkan diri.
Beliau tumbuh dewasa di lingkungan yang penuh dengan cahaya iman, yaitu lingkungan keluarga Abu Bakar as-Shidiq. Suami beliau adalah hawari (pembela) Rasulullah, dan orang yang pertama kali menghunus pedang di jalan Allah, serta salah seorang dari sepuluh orang shahabat yang dijamin masuk surga. Itulah az-Zubair bin al-Awwam Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Ketika berhijrah ke Madinah, Asma dalam keadaan hamil. Dan sesampainya di Quba beliau melahirkan. Inilah bayi pertama yang lahir di negeri Islam. Bayi ini diberi nama Abdullah yang kelak akan menjadi seorang mujahid.
Asma’ hidup di kota Madinah bersama suaminya tanpa pernah berkeluh kesah. Beliau adalah seorang wanita yang memiliki kesabaran yang menakjubkan, asalkan demi akidah dan agama.
Demikianlah Asma’ putri as-Shidiq, wanita yang terpercaya menyembunyikan rahasia hijrah Nabi, wanita yang hidupnya penuh dengan jihad, keberanian, dan kepahlawanan.
Pada suatu hari, Ibu Asma’ yang masih musyrik datang ke Madinah. Asma’ merasa senang dengan kedatangannya. Akan tetapi, lidahnya kelu untuk mengucapkan sambutan hangat kepada ibunya. Karena akidah adalah segala-galanya bagi beliau. Karenanya Asma’ meminta Aisyah Radhiallahu ‘Anha untuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan bertanya, “Apakah aku boleh menyambung kekerabatan dengan ibuku, padahal dia masih musyrik?”
Wanita ini merasa khawatir, jika dia menyambut ibunya, hal itu akan bertentangan dengan firman Allah, yang artinya, “Tidaklah kau temukan sekelompok orang yang beriman dengan Allah dan hari akhir mencintai orang yang memusuhi Allah dan RasulNya.”
Pada akhirnya, Aisyah Radhiallahu ‘Anha datang menemui kakaknya dengan membawa jawaban Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Jalinlah hubungan kekerabatan dengan ibumu dan muliakanlah dirinya.”
Dalam jiwa seorang mukmin, akidah adalah segalanya. Akan tetapi, Islam tidak pernah mengajarkan memutus tali kekerabatan, bahkan Islam memerintahkan umatnya untuk tetap menjalin hubungan kekerabatan.
Dahulu, ketika kaum mukminin masih berada di Makkah, orang-orang Quraisy selalu menyakiti mereka dengan teror dan intimidasi. Namun, ketika kaum muslimin sudah kuat dan memiliki negara yang berdaulat, sedang orang-orang Quraisy justru mengalami kelaparan, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengirim bahan makanan ke Makkah untuk meringankan beban mereka. Benarlah jika firman Allah, yang artinya, “dan tidaklah Kami mengutusmu kecuali sebagai wujud kasih sayang untuk semesta alam.”
Asma’ adalah di antara wanita yang ikut berperang untuk membela Islam dalam peperangan Yarmuk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Berangkatlah kalian baik dalam keadaan ringan ataupun berat dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah. Hal itu lebih baik untuk kalian jika kalian mengetahuinya.” (QS. at-Taubah)
Kehidupan Asma’ adalah detik-detik yang penuh dengan jihad di jalan Allah, dan sabar menghadapi semua ujian yang menerpa. Suatu kesabaran yang jarang dimiliki oleh kebanyakan.
Suami beliau adalah termasuk shahabat Nabi yang paling miskin. Ketika berhijrah, dia tidak memiliki harta dan tidak pula memiliki tanah. Harta milik Zubair waktu itu hanyalah seekor kuda. Tidak jarang Asma’ mendapat tugas memberi makan untuk kuda ini.
Asma’ juga biasa berjalan dari tempat yang cukup jauh sambil membawa biji-bijian. Sampai di rumah, biji-bijian tersebut beliau tumbuk untuk menjadi makanan kuda milik Zubair.
Suatu hari, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat Asma’ yang sedang berjalan kaki. Beliau merasa iba dan kasihan kepadanya. Oleh sebab itu beliau menjerumkan untanya agar supaya Asma’ mau menunggang diatasnya.
Saat mendapat tawaran tersebut, Asma’ lau teringat bahwa suaminya az-Zubair adalah seorang suami yang sangat pencemburu. Oleh karena itu, dia menolak tawaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Disamping itu, beliau juga merasa malu dengan para shahabat yang menyertai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Asma’ bersabar dengan keadaan ekonomi suaminya yang bekerja sebagai pedagang sebagaimana para shahabat yang lainnya. Meski pada akhirnya Allah melimpahkan rizki kepada suaminya.
Asma’ hidup sampai menginjak usia 100 tahun tanpa ada satupun gigi yang tanggal dan juga tidak mengalami kepikunan sedikitpun. Di masa-masa akhir kehidupan Asma’, penguasa sah yang menjadi Amirul Mukminin untuk daerah Hijaz, Persia, Khurasan, kemudian Mesir adalah Abdullah bin Zubair putra Asma’. Kaum muslimin sepakat untuk menerima Abdullah bin Zubair Radhiallahu ‘Anhuma sebagai penguasa, kecuali beberapa pembesar di daerah Syam (Syiria, Yordania, Palestina, Libanon dan daerah pendudukan Israel).
Para pembesar di Syam tersebut lebih lihai dalam masalah politik daripada Abdullah bin Zubair. Mereka memprovokasi orang-orang awam untuk bertindak sewenang-wenang mencopot kekuasaan Abdullah bin Zubair.
Mereka lalu mengepung Abdullah bin Zubair di Masjidil Haram. Sedang Abdullah bin Zubair menjadikan Ka’bah sebagai benteng beliau. Para penyerang tidak kehabisan akal. Mereka memasang manjanik (semacam ketapel besar) untuk melemparinya dengan berbagai batu besar. Abdullah bin Zubair sempat di tawari untuk lari menyelamatkan diri. Tapi, beliau menolak tawaran tersebut mentah-mentah. Beliau tidak rela mengakhiri hidupnya yang penuh dengan jihad itu dengan sikap seorang pengecut.
Akhirnya Abdullah bin Zubair pergi ke rumah ibunya, Asma’ dan meminta pendapatnya. Ketika itu Asma’ adalah seorang wanita tua yang sudah berusia 100 tahun dan bermata buta karena ketuaan. Abdullah bin Zubair berkata kepada ibunya, “Wahai ibuku, orang-orang sudah meninggalkanku, sampai-sampai isteri dan anakku, tidak ada lagi yang tersisa kecuali sedikit orang yang memiliki ketabahan. Para penyerang menjanjikan kepadaku untuk memberi harta dunia yang kuinginkan asalkan aku mau mengalah dan melepaskan status sebagai penguasa yang sah. Bagaimanakah pendapatmu?”
Dengan tegar sang ibunda berkata; “Engkau, demi Allah, wahai putraku, lebih mengerti tentang dirimu. Jika engkau telah tahu, bahwa dirimu berada di pihak yang benar dan mengajak kepada kebenaran, maka lanjutkanlah. Telah banyak sahabatmu yang berguguran karenanya. Dan janganlah engkau biarkan anak-anak kecil Bani Umayyah itu menginjak-injak lehermu dan mempermainkanmu. Akan tetapi, jika maksudmu hanya untuk mencari harta dunia, maka ketahuilah bahwa dirimu adalah seburuk-buruk manusia. Karena, kau telah hancurkan dirimu dan orang-orang yang bersamamu. Adapun jika kamu mengatakan, “Saya memang dipihak yang benar, tetapi ketika para sahabatku lemah, akupun menjadi lemah”, maka ini bukanlah ucapan orang-orang yang merdeka dan bukan pula ucapan orang yang punya agama. Berapa lama kamu akan bertahan hidup di dunia? Terbunuh lebih baik anakku.”
Abdullah Ibnu Zubair Radhiallahu ‘Anhuma lalu berkata, “Saya takut kalau penduduk Syam itu membunuhku, mereka akan mencincangku dan menyalibku.”
Asma berkata, “Wahai putraku, sesungguhnya kambing yang dikuliti setelah disembelih tidak akan lagi merasa kesakitan. Teruslah anakku, berada diatas kebenaran ini dan mohonlah pertolongan kepada Allah.”
Kemudian Abdullah Ibnu Zubair segera mencium kepala ibunya lalu mengatakan, “Ini adalah pendapatku. Yang saya bawa dan yang membuat saya keluar berperang tidak lain hanyalah rasa marah karena Allah. Sekarang saya bertanya, karena hanya ingin mengetahui pendapat ibu, dan ternyata ibu semakin menambah keyakinan saya. Lihatlah wahai ibu, sesungguhnya aku akan terbunuh hari ini, maka janganlah bersedih, dan serahkanlah semua ini kepada Allah.”
Asma’ menjawab, “Aku berharap semoga kesabaranku atas dirimu adalah suatu kebajikan.” Kemudian melanjutkannya dengan doa, “Ya Allah, aku serahkan ia padaMu dan aku ridha dengan putusanMu, maka berilah aku pahala orang-orang yang bersabar.”
Saat itu, Asma’ menyadari bahwa, setiap huruf dari jawabannya akan mencabut sepotong ruh dan nyawa putranya. Tapi, Asma’ sepenuhnya percaya bahwa umat pembela akidah tidak akan pernah menyerah kalah.
Sang ibu yang buta ini lalu memeluk anaknya ke dadanya, membelai dan menciumnya, sebelum perpisahan yang terakhir.
Setelah itu, Abdullah bin Zubair keluar meninggalkan rumah ibunya dengan menunggang kuda, lalu melanjutkan bertempur sehingga gugur sebagai syahid pada usia 73 tahun pada bulan Jumadal Ula tahun 73 H.
Setelah mengetahui gugurnya putra tercinta, Asma’ keluar meninggalkan rumahnya lalu mendatangi jenazah anaknya yang di salib. Beliau raba-raba tubuh putranya sambil mengatakan, “Sungguh sudah tiba waktu bagi seorang pahlawan ini untuk benar-benar menjadi lelaki sejati.”
Setelah al-Hajjaj Ats-Tsaqafi berhasil membunuh Amirul Mukminin Abdullah Ibnu Zubair, dengan cara memotong lehernya dan menyalib tubuhnya, dia pergi menemui Asma’ untuk menghinakannya dengan mengatakan, “Bagaimana menurutmu tentang apa yang telah aku perbuat terhadap musuh Allah?” Asma menjawab, “Menurutku, kamu telah merusak dunianya, dan dia telah merusak akhiratmu. Ingatlah sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda kepada kami, “Sesungguhnya di tengah kabilah Tsaqif ada seorang pendusta dan seorang perusak kejam haus darah.” Adapun si pendusta maka kami telah melihatnya (maksudnya Mukhtar Ats-Tsaqafi yang mengaku menjadi Nabi). Adapun si perusak kejam yang haus darah, aku yakin kamulah orangnya.” Demi mendengar jawaban itu, Hajjaj lalu keluar tanpa bisa berkomentar.
Asma’ meninggal dunia dua puluh hari setelah kematian putranya, setelah memberi contoh kepada setiap muslim dan muslimah akan arti kepahlawanan, serta mengajari keluarga muslimah bagaimana membawa aqidah dan bersabar atas cobaan, serta bersyukur disaat senang dan susah. Sungguh benar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau bersabda,
« لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِيْ ؛ فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَباً مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ »

“Janganlah engkau mencela para sahabatku, dikarenakan seandainya salah seorang diantara kalian bersedekah emas sebesar bukit Uhud tidaklah menyamai satu mud mereka dan tidak pula setengahnya”. (HR. Bukhari, Kitab Manakib, 3673; Muslim, Kitab Fadhail Amal, 2540)
Para ulama telah sepakat barang siapa mencela sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka dia adalah Zindiq. Dan suatu golongan sesat yang mengklaim dirinya berada diatas manhaj ahlul bait, sementara ahlul bait berlepas diri dari mereka, mengatakan bahwasanya wanita yang agung ini, bapaknya, suaminya dan anaknya adalah orang orang kafir! Laa haula wa Laa quwwata illa billah.
Ya Allah, jadikanlah kami berada di antara orang orang yang mencintai NabiMu yang mulia dan para sahabatnya yang terpilih, serta keluarganya yang suci.
  • Syrenia Carrisa Althafunnisa [putri lembut yang memiliki banyak pengetahuan dan menarik]
  • Husna Malihah Salma [putri cantik yang penuh kelembutan dan lahir dengan selamat]
  • Alya Salsabila Azrina [putri yang tinggi kedudukan, baik seperti mata air syurga]
  • Shareen Naazira Salwa [putri yang berseri-seri bagai madu yang manis]
  • Darra Alzena Zuhra [putri yang penuh keindahan dan cemerlang seperti mutiara]
  • Iffah Nazihah Althafunnisa [putri suci yang lembut dan jujur]

  • Kayyisa Nazneen Zunaira [putri cerdik yang bijaksana dan cantik bagai bunga yang ada disyurga]
  • Frasya Zunaira Nafisah [putri yang berharga dan indah seperti bunga disyurga]
  • Ayana Farizah Syafiqa [putri penyayang dan terpilih seperti bunga yang indah]
  • Fathinah Kayla Nazifa [putri cerdas, cantik, terhormat dan murni]
  • Nasywa Zaila Qanitah [putri yang besar hatinya dan taat]